Mengapa GARAM dan GULA Dilarang untuk Bayi?

bayi, gula, garam, sugar rush, glukosa, dekstrosa, sukrosa, sirup jagung, gula baik, gula buruk, gula untuk bayi, garam untuk bayi, pemberian garam pada bayi, bahaya garam pada bayi, gula garam untuk bayi, bolehkah gula dan garam untuk mpasi, kapan makanan bayi boleh pakai gula garam, daya tahan  tubuh bayi

Banyak orang tua yang terkadang bingung mengapa garam dan gula disarankan untuk ditunda dulu pemberiannya pada bayi. Disini akan kita bahas dengan lengkap, silahkan disimak ya.

Garam (NaCl) dan gula (glukosa, sukrosa, dekstrosa, sirup jagung) merupakan bahan yang tidak perlu ditambahkan dalam makanan pendamping ASI/makanan padat bayi. Walaupun pada dasarnya tubuh memerlukan sodium/natrium (yang utamanya terdapat pada garam) untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, sumber sodium/natrium itu sebetulnya tidak hanya berasal dari garam, tetapi juga hadir dalam produk susu, ASI, roti, serealia, dan daging.

Untuk memperjelas kebutuhan sodium/natrium pada bayi, mari kita lihat data berikut.
Kebutuhan Sodium/Natrium untuk bayi dan anak-anak dalam 1 hari (wardley, more : 2004):
•    7 s/d 12 bulan                 : 1 gram (0,4 gr sodium/natrium)
•    1 s/d 3 tahun                   : 2 gram (0,8 gr sodium/natrium)
•    4 s/d 6 tahun                   : 3 gram (1,2 gr sodium/natrium)
•    7 s/d 10 tahun                 : 5 gram (2 gr sodium/natrium)
•    11 s/d 14 tahun               : 6 gram (2,4 gr sodium/natrium)
 
Kita bisa melihat betapa minimalnya kebutuhan sodium untuk bayi dibawah 1 tahun. 1 gram garam atau 0,4 gr sodium tentu semuanya bisa didapat terutama dari ASI plus makanannya.

Jadi, rasa asin dari garam hanya memuaskan selera kita sebagai orang tua. Takutnya malah kebablasan memberikannya, sehingga jadi tidak baik juga. Ingat lho, ginjal bayi itu masih sangat lembut dan belum bisa mencerna garam dapur dengan sempurna. Tenang saja, nanti ada saatnya anak pasti kenal dengan citarasa enak asin dan gurih. Jadi anda tidak perlu khawatir.

Gula baik sebagai sumber energi, tetapi gula pun ada 2 macam yaitu gula baik dan gula buruk. Gula baik adalah gula yang dilepaskan secara perlahan dalam aliran darah, sehingga tidak menimbulkan sugar rush dan diserap perlahan. Sugar rush adalah keadaan ketika si pengonsumsi gula ini sangat berenergi dan menjadi pecicilan, tapi hanya sesaat, setelah itu setelah efek sugar rush sudah berlalu, ya memble lagi. Contoh gula yang baik adalah adalah gula alami dari buah atau biasa disebut dengan fruktosa.

Gula yang buruk (terutama bagi anak-anak) adalah glukosa, dekstrosa, sukrosa, sirup jagung. Madu sebetulnya baik untuk kesehatan karena penuh dengan zat gizi. Hanya saja,madu juga dapat menjadi sarana berkembangnya bakteri Clostridium Botolinum. Begitu juga sirup jagung. Jadi, untuk pemberian keduanya, silahkan tunda hingga umur diatas 1 tahun saat daya tahan tubuh bayi lebih kuat.

Mengenai MSG ataupun penyedap rasa lain (kaldu blok, kaldu bubuk, bahkan yang menyatakan non MSG tapi menggunakan nama lain seperti MNG, HVP, dll) serta bahan aditif makanan (pewarna, aroma, pemanis, pengawet, pengembang, dll) tentunya sangat disarankan  untuk tidak ditambahkan  kedalam makanan bayi dan anak-anak.

Baca juga: Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cokelat

Demikian ringkasan singkat mengenai kadar kebutuhan garam dan gula untuk bayi. Semoga bisa menjadi acuan anda khususnya orang tua yang merasa bingung akan asupan yang baik bagi buah hati anda. Salam Tanaman Obat Herbal.

Subscribe to receive free email updates: