Yuk, Kurangi Makan Gorengan agar Terhindar dari Penyakit Degeneratif

asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh, diabetes, gorengan, kanker, minyak goreng, penyakit degeneratif, penyakit jantung, stroke, Kerusakan Minyak Goreng

Siapa yang tidak mengenal gorengan? Mungkin belum lengkap rasanya bila tidak ada gorengan di santapan kita setiap hari. Karena rasanya yang enak dan mudah dibuat, gorengan menjadi primadona masyarakat Indonesia. Namun, bagaimana bila gorengan dikonsumsi secara berlebihan? Apa bahayanya gorengan bagi kesehatan? Melalui artikel ini yuk kita kurangi makan gorengan agar terhindar dari penyakit degeneratif.

Minyak Goreng
Menurut Wikipedia, minyak goreng adalah minyak yang digunakan untuk menggoreng makanan yang berasal dari hewan atau tanaman yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar. Minyak goreng umumnya berasal dari minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit memiliki ikatan rangkap dalam strukturnya, sehingga digolongkan dalam asam lemak tak jenuh yang stabil. Selain dari kelapa sawit, ada juga minyak palm olein, minyak palm kernel, minyak palm stearin dan tallow.

Kerusakan Minyak Goreng
Minyak goreng akan mudah berubah warna ketika telah digunakan untuk menggoreng, sehingga biasanya digunakan untuk 3-4 kali penggorengan. Saat digunakan untuk menggoreng, ikatan rangkap dalam minyak goreng akan putus, membentuk ikatan tunggal yang disebut ikatan jenuh, sehingga pada minyak disebut dengan asam lemak jenuh. Minyak yang baik adalah minyak yang banyak mengandung asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuhnya.

Minyak yang telah rusak atau kita sebut minyak jelantah adalah minyak yang telah digunakan untuk menggoreng berkali-kali sehingga asam lemak yang ada dalam minyak goreng tersebut semakin jenuh. Akibatnya, makanan yang digoreng dengan minyak tersebut akan mengandung asam lemak jenuh juga yang berbahaya bagi kesehatan.

Gorengan yang merakyat dan dampaknya bagi kesehatan
Makanan serba digoreng sudah menjadi makanan yang tidak bisa lepas dari asupan kita. Namun, segala sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik. Mengkonsumsi gorengan secara berlebihan ternyata berkontribusi pada perkembangan penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Bahkan juga dapat menjadi pemicu kanker.

Umumnya, minyak goreng yang digunakan oleh penjual gorengan adalah minyak goreng curah dan tidak diganti sekalipun sudah menghitam dan berasap. Minyak goreng yang sudah menghitam ini telah mengalami oksidasi dan menghasilkan radikal bebas. Radikal bebas adalah senyawa yang tidak stabil yang akan berusaha mencari senyawa lain dalam tubuh agar stabil. Radikal bebas ini diduga menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya kanker.

Selain mengandung radikal bebas, minyak goreng yang telah menghitam juga mengandung asam lemak jenuh yang tinggi yang berkontribusi pada peningkatan kolesterol. Ikatan asam lemak jenuh ini sulit diurai oleh tubuh dan terbawa aliran darah. Karena sulit diurai, lemak ini akan mengendap di pembuluh darah dan dapat menyumbat aliran darah. Apabila sumbatan terjadi di jantung, maka menyebabkan penyakit jantung.

Bila sumbatan terjadi di pembuluh darah otak, maka menyebabkan stroke. Banyaknya jaringan adiposa (lemak) yang terbentuk juga akan mengurangi keberadaan reseptor insulin yang diperlukan insulin untuk berikatan agar gula darah terdistribusi ke jaringan. Karena reseptor insulin hanya akan terdapat pada jaringan non adiposa. Sehingga, tingginya lemak berkontribusi pada diabetes.

Makan gorengan boleh saja, asal tahu tips sehatnya
Mengkonsumsi gorengan tetap diperbolehkan, asal tidak berlebihan dan memperhatikan minyak goreng yang digunakan. Apa saja tips sehatnya?

1. Menggoreng sendiri makanan sangat dianjurkan.
Sehingga kita dapat mengontrol penggunaan minyak goreng. Gantilah minyak goreng bila telah menghitam. Umumnya, minyak goreng diganti setelah 3-4 kali penggorengan.

2. Gunakan suhu yang pas untuk menggoreng.
Suhu yang terlalu tinggi untuk menggoreng dapat mempercepat terbentuknya radikal bebas dan memicu kanker. Namun, bila suhu terlalu rendah, makanan akan lebih banyak menyerap minyak.3. Jangan menggunakan minyak goreng yang telah menghitam, berbau tengik, keluar asap dari penggorengan, dan bila dimakan menyebabkan tenggorokan gatal.

Baca juga:  Dapatkah Jahe Mengurangi Mual Muntah Karena Kemoterapi?

Demikianlah artikel tentang jajanan yang melekat pada keseharian kita. Dan tidak lupa kami mengajak para pembaca untuk mengurangi makan gorengan agar terhindar dari penyakit degeneratif. Salam Tanaman Obat Herbal.

Subscribe to receive free email updates: